1393297084426887343

Banyak orang yang bilang kalau orang jawa timur itu kasar, ceplas-ceplos, lantang, tegas dan cepat sampai-sampai dibilang kayak preman. Hal ini juga yang menyebabkan orang jawa timur dipandang jauh lebih kasar dari pada orang jawa tengah atau yogyakarta. Padahal orang jawa timur itu nggak kasar sama sekali kok !

Orang jawa timur bukanlah orang yang kasar seperti preman, hanya saja kami memiliki watak dan karakter yang berbeda dengan orang-orang di jawa tengah dan yogyakarta. Kalo orang jawa tengah dan jogja itu dikenal dengan kalem, lemah-lembut, sungkanan (sering merasa tidak enak) dan bahkan sering dibilang klemar-klemer. Sedangkan orang jawa timur orangnya blak-blakan, nggak suka berbelit-belit, nggak sungkanan. Karena hal itulah banyak yang bilang kalau orang jawa timur itu kasar. Padahal , orang jawa timur itu lembut kok J

Kalau orang jawa tengah susah bilang “enggak” , orang jawa timur lebih to the point dan nggak suka “mbulet”.

Percakapan orang jawa timur dan jawa tengah sering terjadi miskomunikasi. Meskipun sama-sama berbahasa Jawa, tetapi terdapat banyak sekali perbedaannya. Mulai dari kosa kata, arti, dan juga dialeknya.

Teman (Jawa tengah): “Kowe mengko mrene numpak opo?” (kamu nanti kesini naik apa?)

Kamu (Jawa Timur): “Aku tak nggawe sepeda ae yo!” (aku naik sepedah aja ya)

Teman: “Heh? Lha kok nggawe sepeda barang? Kesuwen mengko?” (Heh? kok bikin sepedah? kelamaan nanti?)

Kamu: “Lho, ket wingi kan aku nggawe sepeda seh mrene..” (Lho, dari kemarin kan aku pakai sepeda kesini)

Jawa timur : nggawe = memakai

Jawa tengah : nggawe = membuat

* * *

Teman (Jawa tengah) : “piye kabare tugasmu ? dikumpuke sesok e cah”

Saya (Jawa Timur) : “ durung mari tek aku rek”

Teman (Jawa Tengah) : “ loh kowe loro opo ?”

Saya (Jawa Timur ) : “aku gak loro opo-opo kok, tugasku kui lo seng durung mari”

Jawa timur : mari = selesai

Jawa tengah : mari = sembuh

Kalau jawa tengah-an pada umumnya meggunakan akhiran kata -to, atau -po, sedangkan jawa timur-an menggunakan akhiran -tah dan -se.

Iyo, tah?

Piye, se?

Iyo, po’o?

Opo’o? (kenapa)

Masiyo (meskipun)

Kalau kamu asli Jawa Timur, dialek yang satu ini nggak akan pernah kamu tinggalkan. Tanpa sadar kamu akan memberi penekanan dan pemanjangan pada kata-kata sifat tertentu yang cuma orang Jawa Timur yang ngerti.

Teman: “Eh, wingi koen sido nang omahe Yanti?” (kemarin jadi ke rumah yanti?)

Kamu: “Halah… Omahe arek iku uaaaddduuuuooooohhhh puuooollllll, rek!” (Haduh, rumah anak itu jauh banget)

Orang Jawa Timur udah terbiasa menggunakan dialek ini. Biasanya, dia baru berhenti ketika nafasnya udah habis. :p

Arek  Jawa Timur emang nyeleneh-nyeleneh. Kalau ngomong cepet, kasar dan ceplas-ceplos!

Tapi inilah aku apa adanya, bebas jadi diriku sendiri..

Yang penting, aku nggak ngerugiin negara!

 

travel_bromoberkabut_151822

JER BASUKI MAWA BEYA!

Biarpun orang Jawa Timur sering dibilang orang Jawa kasar, janc*kers, preman Jawa atau apalah. Kamu sedikitpun nggak malu jadi orang Jawa Timur. Kamu tetap jadi apa adanya dirimu dan menjunjung tinggi budayamu sendiri.

Biarkan orang beranggapan buruk, yang penting arek-arek Jawa Timur tetap bersatu sebagai pemuda Indonesia yang pemberani!