esai ini dulunya aku pakai buat daftar pesantren mahasiswa darus sholihat, tapi sekarang esai ini cukuplah sebagai kenangan atas perjuanganku mencari yang belum ditemukan 🙂

who-am-i

Nama saya Erliana Prastika, saya lahir di Banyuwangi 5 Juli 1996 dan terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga petani. Saya dibesarkan di sebuah kabupaten di ujung timur pulau jawa , sun rise of java, atau yang lebih akrab di kenal dengan kabupaten Banyuwangi.

            Saya adalah pribadi yang sering menunda pekerjaan (prokrastinasi) , saya tipe orang yang memiliki individualitas tinggi mungkin karena sebagai anak tunggal yang biasa hidup sendiri, sangat semangat untuk hal-hal baru namun juga cepat bosan. Saya terkesan pemalu dan lebih cuek bila baru mengenal seseorang, namun itu hanyalah gambaran sementara, setelah jauh mengenal saya, pasti semua hal yang dikatakan tersebut akan berbanding terbalik. Saya termasuk orang yang tertutup, hanya sedikit bersikap terbuka kepada teman-teman terdekat saja itupun hanya teman-teman yang bisa saya percaya saja.

Saya mempunyai semangat juang tinggi untuk mendapat apa yang saya cita-citakan, jika saya mempunyai sebuah keinginan maka saya akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Saya tipe orang yang fokus kepada apa yang tengah dikerjakan, jika ada sebuah target atau pekerjaan saya akan sangat fokus kepada hal tersebut. Saya adalah seseorang yang sangat menyayangi keluarga dan teman-teman atau sahabat saya. Meskipun terhalang jarak yang jauh dengan keluarga saya, tapi saya mengusahakan setiap hari menghubungi orang tua saya.

Saya tinggal di desa dengan suasana khas pegunungan, hal inilah yang menyebabkan saya sangat menyukai gunung ataupun pegunungan. Suasana yang tenang, damai dan kondisi udara sejuk serta pemandangan yang hijau segar membuat saya sangat menyukai gunung atau pegunungan.

Hal yang sangat tidak saya senangi adalah ketika saya sakit, karena ketika saya sakit saya harus minum obat yang pahit. Sejak kecil saya tidak suka dengan makanan atau minuman yang pahit dan asam. Sepertinya saya lebih peka terhadap rasa pahit dan asam lebih dari orang biasanya. terlebih lagi karena saya tidak bisa menelan pil !

Saya tipe orang yang tidak menceritakan semua masalah kepada orang lain. Sekiranya orang tersebut tidak bisa meringankan beban saya maka saya tidak bercerita. Saya lebih memilih untuk menyimpan masalah saya sendiri. Biasanya saya menceritakan kepada Allah setelah sholat, saya merenungi masalah saya, mencari jalan keluar dari masalah yang saya hadapi. Tetapi jika memang saya butuh orang untuk menceritakan masalah saya, biasanya saya menceritakan kepada sahabat saya. Kepada mereka yang sudah lama mengenal saya dan masa lalu saya.

Ketika saya sedang menghadapi masalah yang membuat saya marah atau sebel biasanya saya menuliskan kekesalan saya baik di buku ataupun di laptop. Namun saya bukanlah tipe orang pemikir, biasanya saya mengalihkan kemarah saya dengan hal-hal lainnya yang saya anggap menyenangkan seperti makan camilan dan lain sebagainya.

Pengalaman yang paling berkesan untuk saya adalah ketika saya mendaki di gunung Ijen, salah satu gunung di Banyuwangi. Pendakian itu adalah kali pertama saya mendaki, meskipun bukanlah gunung yang tinggi seperti semeru namun itu memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Pendakian malam hari yang menyajikan pemandangan bintang-bintang dan lengkap dengan hawa dingin khas pegunungan. Saya merasa sangat kecil ketika melihat keagungan ciptaan Allah. Mendaki gunung memberikan saya banyak pengalaman, saya lebih bisa menghargai proses, mengurangi perasaan individualitas, dan yang pasti menjadikan saya lebih banyak mensyukuri nikmat Allah.

DSCN1257 Kawah-Ijen-Jawa-Timur

Sampai sekarang saya merasa ada sesuatu yang salah dalam hidup saya. Selama ini beberapa hal yang saya inginkan sudah tercapai, yakni tinggal di yogyakarta, kuliah di BK UNY, mendapat IP di atas 3,5 , menjadi pengurus organisasi, tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam benak saya. Hati saya tetap tidak merasakan kebahagiaan dan ketenangan dengan apa yang sudah saya peroleh. Saya sempat berfikir mungkin hal ini karena jurusan saya bukan jurusan favorit, ada sedikit niatan untuk ikut SBMPTN lagi dan mencoba untuk pindah ke universitas dan jurusan yang lebih favorit , tapi dengan beberapa pertimbangan saya rasa itu bukanlah jalan keluar dari perasaan aneh yang sedang saya hadapi sekarang.

Kembali saya mengingat saat dimana saya menyusun cita-cita saya sebelum ke jogja, dan saya menemukan ada sebuah cita-cita yang belum saya lakukan sampai saat ini, yaitu menuntut ilmu agama di pesantren. Mungkin karena kurangnya ilmu agama yang saya miliki inilah yang menjadikan saya merasa kurang adanya ketenangan dalam diri saya. Semoga dengan saya masuk PMDS saya bisa menambah ilmu agama saya sekaligus memperbaiki akhlak saya yang berantakan ini. Dan saya juga berharap agar saya dapat membagikan ilmu yang saya peroleh di pesantren ini terutama kepada keluarga saya.

11026800_978283028856959_1529974273035615975_n

Saya lahir di keluarga petani. Keluarga yang sederhana, dan penuh kehangatan. Saya terlahir sebagai anak tunggal, hal ini yang menyebabkan saya secara otomatis menjadi pusat perhatian kedua orang tua saya. Menjadikan saya sebagai harapan akan cita-cita kedua orangtua saya. Pekerjaan orang tua sebagai petani tidak menjadi hambatan untuk saya terus mencari ilmu. Alhamdulillah, Allah memberikan kemampuan ekonomi untuk keluarga kami hidup dengan kecukupan. Bahkan kedua orangtua sangat mendukung saya untuk terus bersekolah, dan sangat peduli dengan perkembangan saya dalam bersekolah.

Ibu saya selalu berharap agar memiliki anak yang sholehah, mengerti ilmu-ilmu agama dan memiliki akhlaq yang baik. Ibu saya sangat mendukung jika saya mendalami ilmu agama, karena ini memang keinginan ibu saya sejak lama. Ibu dan Bapak selalu memberikan kebebasan untuk mengambil keputusan. Pola asuh yang demokratislah yang senantiasa diterapkan oleh mereka.

Ayah saya kurang mengajarkan ilmu-ilmu agama, hal ini dikarenakan ketika SMP dan SMA beliau bersekolah di sekolah katolik dan tinggal bersama keluarga kami yang juga beragama katolik. Meskipun beliau jarang mengajarkan ilmu-ilmu agama untuk saya, akan tetapi beliau tetap mengusahakan pendidikan agama untuk saya, misalnya memasukkan saya di TPA/TPQ. Di sisi lain, Ibu saya termasuk orang yang rajin ibadahnya. Sejak SMP sudah bersekolah di sekolah Muhammadiyah dan akhirnya membentuk kepribadian yang rajin dalam ibadahnya. Dua hal yang berbeda ini tidak menjadi masalah, karena mereka saling melengkapi dalam mendidik saya. Bapak yang fokus dalam pendidikan akademik dan Ibu yang fokus dalam mengajarkan ilmu agama.

Karena saya terlahir di dalam keluarga yang nasionalis, inilah salah satu alasan saya untuk lebih mendalami ilmu-ilmu agama. Saya ingin menjadikan diri saya lebih dekat dengan Allah, berusaha memahami apa yang di larang dan apa yang diperintahkan, bertingkah laku sebagai seorang muslimah yang baik dan nantinya mengajak keluarga saya untuk sama-sama berada di jalan yang diridhoi Allah.

Saya memiliki 2 orang sahabat sejak SMP yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan saya. Saat SMP kami sering menghabiskan waktu bersama hanya sekedar untuk bersenang-senang. Seperti kebanyakan anak SMP yang ingin mencoba segala sesuatu, seperti itulah kami. Sekarang kami sama-sama berjuang untuk memperbaiki diri. Satu sahabat saya kuliah di UII dan sekaligus menjadi santri di salah satu pesantren di Jogja, dan teman saya yang dulunya tomboi sekarang kuliah di UI dan mulai memakai jilbab. Kami saling mengingatkan jika terkadang diantara kami ada yang berbuat salah. Saya sangat menikmati persahabatan ini. Mereka sahabat yang menemani saya dalam kondisi apapun, dan alhamdulillah sekarang kami sama-sama berjuang memperbaiki diri.

Saya merasa beruntung berada di prodi BK, karena saya memiliki teman kelas yang penuh perhatian dan besar pengertian terhadap sesamanya. Kami saling mengingatkan untuk menjadi calon konselor atau guru BK yang baik sifat dan tingkah lakunya.

Di kampus, saya banyak berkenalan dan membangun hubungan pertemanan dengan mereka yang saya lihat rajin ibadahnya dan baik tingkah lakunya. Hal ini saya lakukan karena saya ingin berkumpul dengan orang-orang baik agar saya juga bisa menjadi baik seperti mereka. Mereka yang mengispirasi saya dan mereka juga yang menyadarkan saya bahwa saya sangat kekurangan ilmu agama. Teman-teman di kampus terutama di organisasi KMIP(keluarga muslim ilmu pendidikan) banyak memberikan pengaruh positif untuk saya. Misalnya saja, mereka selalu mengajak untuk mengikuti kajian atau mengingatkan untuk sholat dan ibadah lainnya.

Dahulu, ketika SMP dan SMA saya sangat jarang mengikuti organisasi akan tetapi sekarang saya mulai mengikuti beberapa organisasi. Organisasi cukup untuk mengisi waktu luang saya selain kuliah. Hal ini saya lakukan karena saya anak kos yang sangat jarang pulang kampung dan organisasilah yang menjadi teman saya ketika ada banyak waktu luang. Saat ini saya menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Psikologi Pendidikan dan Bimbingan atau HIMA PPB. Sekitar dua sampai tiga kali dalam seminggu kami mengadakan rapat pengurus sepulang kuliah. Saya juga menjadi pengurus KMIP (Keluarga Muslim Ilmu Pendidikan) dan mendapat amanah menjadi staff kemuslimahan. Setiap hari Jumat kami mengadakan kajian kemuslimahan pada pukul 11.00-13.00. Selain kedua organisasi di atas, saya juga tergabung dalam asisten laboralorium jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. Kegiatan rutin aslab adalah piket jaga lab di sela-sela jam perkuliahan tanpa mengganggu perkuliahan.

Selama ini saya tidak pernah pergi untuk berlibur bersama dengan teman-teman, karena saya bukan asli orang Jogja jadi lingkungan pertemanan saya masih sedikit. Teman-teman saya di Jogja adalah mereka para pengurus organisasi dan juga teman-teman jurusan. Ketika ada waktu libur saya lebih memilih untuk mengistirahatkan diri kamar kos, karena sudah sepekan beraktifitas dengan berbagai kegiatan.

Begitulah diskripsi singkat mengenai diri saya, saya selalu berusaha untuk memperbaiki kekurangan yang ada dalam diri saya, dan tidak menjadikan kekurangan yang ada dalam diri saya sebagai suatu halangan untuk bisa lebih baik. Tujuan saya ingin menjadi yang terbaik di antara yang baik. Selalu menjadi sosok yang sesederhana mungkin. Tetap terus berdoa dan berusaha agar segala sesuatunya dapat berjalan dengan seimbang. Karena hanya doa yang dapat merubah takdir.