tumblr_inline_nsjyywYMSk1sv7x1u_1280

 

Memahami diri sendiri tidaklah semudah yang kita bayangkan, bahkan mengetahui apa tujuan hidup kita saja sungguh sulit untuk dijawab. Pertanyaan sederhana seperti “who are you? ” “where are you?” harus memakan banyak waktu untuk menjawabnya. Kenapa demikian ? karena kita belum menyadari betul siapa diri kita sebenarnya. Seandainya saja kita sudah mengenal siapa diri kita sebenarnya maka tidaklah susah menjawab pertanyaan sederhana itu. Sayangnya kita belum mengenal diri kita dengan baik. Lantas siapa aku ? dimana aku ? untuk apa aku ada ? Baru di usiaku yang ke 18 tahun ini aku menyadari siapa aku

sebenarnya, sangat disayangkan memang baru mengenali diri sendiri ketika sudah hidup di bumi ini belasan tahun. Semua berawal ketika aku mulai menginjak Kota Yogyakarta, ketika aku mulai menimba ilmu di Universitas Negeri Yogyakarta. Di kota rantauku inilah aku mulai mengenali siapa aku sebenarnya, kenapa aku ada di sini sekarang dan apa tujuanku hidup.

Ya, semua itu aku dapat ketika aku kuliah di sini. Lingkungan yang jauh berbeda dari lingkunganku sebelumnya mulai menarik perhatianku. Kegiatan keagamaan mulai rajin aku datangi, kegiatan keorganisasian juga tak luput dari rutinitasku, semua aku lakukan demi mencari siapa sebenarnya aku ini. Bertemu dengan banyak orang dengan penampilan dan sifat yang berbeda-beda menjadikanku sedikit demi sedikit mulai mengerti bahwa manusia tidaklah ada yang sama. Allah memberikan banyak pilihan untuk hambanya, mau menjadi makhluk yang seperti apa. Mau jadi manusia yang pandai bersosial ? Mau jadi manusia yang pandai agama ? ataukah mau jadi manusia yang pandai ilmu akademik? Semua tergantung dari masing-masing individu, dan semakin banyak pilihan semakin mudah pula aku untuk terbawa arus pertemanan. Ketika di sini aku beruntung karena memiliki teman yang sama-sama mau berjuang mencari jati diri, mencari ridho Allah dan tidak hanya urusan dunia yang kami perjuangkan tapi juga urusan di akhirat.

Suatu ketika aku membaca sebuah buku di perpustakaan FIP, buku itu menjelaskan tetang bagaimana seharusnya kita mencintai Allah. Seperti halnya mencintai kekasih, kita akan melakukan hal-hal yang baik di depannya, pun demikian halnya ketika kita menghadap Allah, di dunia ini kita akan berbuat baik untuk Allah yang telah mencurahkan rahmatnya yang begitu besar. Sejak saat itu aku mengerti bahwa apapun yang aku lakukan di dunia ini hanyalah untuk Allah, Tuhanku, sesembahanku dan segalanya bagiku. Aku mengerti kenapa aku kuliah di sini, akupun mengerti mengapa banyak hal tak terduga datang kepadaku, semua itu karena Allah masih menyayangiku, Ia

memberikanku kesempatan untuk berubah memperbaiki diri, setelah apa yang aku perbuat di masa lalu.

Tidak salah memang, dalam setiap kejadian pasti ada hikmahnya.