kihajar-e_76_1421895910

 

Ki Hajar Dewantara memiliki konsep pendidikan yang benar-benar bersifat pribumi, yakni yang non-pemerintah dan non-Islam. Konsep pendidikan seperti itu berarti pendidikan yang memadukan pendidikan gaya Eropa yang modern dengan seni-seni Jawa tradisional. Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah cara yang dipakai untuk meneruskan nilai-nilai kebudayaan dari satu generasi ke generasi lainnya, sedangkan kebudayaan itu sendiri merupakan semangat yang menjiwai pendidikan.

Menurut viagra femme forum bestellen Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna, dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggung jawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian. Sehingga Ki Hajar Dewantara dengan tegas menolak pendidikan yang terlalu mengutamakan intelektualisme dan mengorbankan aspek keruhanian atau jiwa para siswa. Ia mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakat. Jika pendidikan menekankan pada aspek intelektual terus menerus maka pendidikan justru akan menjadi manusia kurang humanis atau manusiawi.

Menurutnya, pendidikan yang ditawarkan oleh pemerintah kolonial hanya akan membuat pribumi lupa akan kebudayaannya dan membuat pribumi menjadi tenaga bagi kepentingan pemerintah kolonial. Ia akhirnya mendirikan sekolah yang menawarkan pendidikan berorientasi kepada kebudayaan timur dan mengedepankan nilai-nilai keruhanian yang dibarengi dengan kekuatan intelektual. Sekolah tersebut diberi nama Tamansiswa

Ki Hajar Dewantara adalah bangsawan yang melepaskan atributnya dan menjadi Bapak Bangsa. Dalam pandangannya, tujuan pendidikan adalah memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membedakan agama,etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status

ekonomi, status sosial, dan didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi. Ia lebih tertarik mendalami bidang pengajaran dan pendidikan. Ia mulai berkenalan dengan gagasan-gagasan tokoh pendidikan dunia, seperti J.J. Rousseau, Rabindranath Tagore, John Dewey, Montessori, dan Kerschenteiner. Dari Tagore, ia mendapat gagasan pendidikan yang mengutamakan pengembangan kepribadian anak. Selanjutnya, Montessori mengutamakan pelatihan pancaindera untuk mengembangkan tabiat dan kekuatan jiwa anak. Yang paling berpengaruh kepada Ki Hajar Dewantara adalah konsep Frobel yang menekankan pengembangan angan-angan anak dengan cara mengajari anak berpikir melalui permainan.

Ki Hajar Dewantara menolak konsep regeering, tucht, en orde (paksaan, hukuman, dan ketertiban) yang menjadi ciri utama gaya pendidikan Belanda. Ki Hajar Dewantara mengenalkan konsep orde en vreden (tertib dan damai), dengan bertumpu pada prinsip pertumbuhan menurut kodrat. Konsep inilah yang nantinya dikenal dengan Metode Among, dengan trilogi peran kepemimpinan pendidik, yakni Tut Wuri Handayani (guru hanya membimbing dari belakang dan mengingatkan jika tindakan siswa membahayakan), Ing Madya Mangun Karso (membangkitkan semangat dan memberikan motivasi), dan Ing Ngarso Sung Tulodo (selalu menjadi contoh dalam perilaku dan ucapan). Ki Hajar Dewantara juga mengajarkan pentingnya sistem Tri Pusat Pendidikan yang satu sama lain saling berkaitan yaitu pendidikan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga hal ini akan sangat berpengaruh pada watak dan kepribadian anak.

Metode among

Among memiliki pengertian menjaga, membina, dan mendidik anak dengan kasih sayang. Pelaksana Among disebut Pamong, yang mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong. Metode Among digunakan untuk meletakkan pendidikan sebagai alat dan syarat untuk anak-anak hidup sendiri, mandiri dan berguna bagi masyarakat. Pendidikan yang diajarkan adalah menegakkan jiwa anak-anak sebagai bangsa, membimbing anak-anak menjadi manusia yang bisa hidup dengan kecakapan dan kepandaiannya sendiri, menciptakan manusia yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat.

Tujuan dari sistem among adalah untuk membangun anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa, merdeka https://www.viagrasansordonnancefr.com/viagra-en-ligne/ lahir batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani ruhani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya. Sistem Among mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan atau kekerasan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak. Menurut Ki Hajar Dewantara dalam menjatuhkan hukuman kepada anak hendaknya tidaklah melupakan makna hukuman sebagai salah satu alat untuk mendidik. Di sini Ki Hajar Dewantara menghendaki tidak hilangnya makna mendidik dengan hukuman yang diberikan kepada anak-anak. Jadi, siswa diberi kebebasan untuk bertindak, tetapi apabila kebebasan itu disalahgunakan, maka pamong wajib memberi peringatan atau hukuman.

Menurut Ki Hajar Dewantara, anak harus tumbuh menurut kodrat yang diperlukan untuk segala kemajuan dan harus dimerdekakan seluas-luasnya. Pendidikan yang beralaskan paksaan,hukuman,ketertiban dianggap memerkosa hidup kebatinan sang anak. Yang dipakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Ia juga mengembangkan kegiatan belajar mengajar melalui sifat kodrati anak dalam naluri permainan anak. Dengan bermain sifat kodrati atau naluri anak yang bebas merdeka akan tersalurkan, sekaligus melatih ketajaman pancainderanya. Bermain dapat melatih interaksi sensoris dan motoris, yaitu koordinasi otak-mata-tangan, otak-mulut-tangan. Ki Hajar Dewantara juga melihat pentingnya pelajaran permainan dan nyanyian bagi para murid. Menurutnya, perlu beberapa langkah dalam mengajarkan permainan dan nyanyian bagi para murid. Dengan langkah yang tepat, ia mengharapkan manfaat pelajaran permainan dan nyanyian seperti mendidik kebatinan murid dapat terwujud.

Menurut Ki Hajar Dewantara, Pamong jangan saja memberi pengetahuan yang perlu dan baik (menurut silabus) saja, akan tetapi harus mendidik siswa mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum. Pamong juga harus memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada yang muda untuk membina disiplin pribadi secara wajar, melalui pengalamannya sendiri, pemahamannya sendiri dan usahanya sendiri. Yang penting diperhatikan adalah menjaga agar pemberian kesempatan ini tidak akan membahayakan mereka sendiri atau memungkinkan timbulnya ancaman bagi keselamatan orang lain. Mengikuti perkembangan anak, murid atau bawahan dengan penuh perhatian berdasar cinta kasih tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasi dan memaksanya, adalah langkah yang penting dalam pendidikan. Bagi Ki Hajar Dewantara, penampilan seorang guru profesional juga penting secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian , nilai-nilai dan keruhanian serta mampu menjadi motivator. Para guru atau pamong hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan keruhanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figur keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar.

Ki Hajar Dewantara membagi pendidikan ke dalam dua hubungan, yaitu pendidikan dan penghidupan rakyat dan pendidikan dan kebangsaan. Dalam hubungan yang pertama, terdapat sembilan poin penting yang ia ajukan. Kesembilan poin penting itu adalah kekuatan rakyat, mendidik anak adalah mendidik rakyat, sistem pengajaran kerakyatan, penerimaan perbedaan, kemerdekaan manusia, bersandar pada kekuatan sendiri, tugas sebagai rakyat, tidak diperintah, dan persatuan pengajaran. Sedangkan dalam hubungan yang kedua, ia mengajukan tujuh poin penting yang antara lain, pendidikan nasional yang selaras dengan kehidupan dan penghidupan bangsa, pendidikan nasional adalah hak dan kewajiban bangsa, tidak menerima subsidi pemerintah, tidak terikat lahir dan batin, sistem mengongkosi diri sendiri, adanya badan pembantu umum, dan adanya Steunfonds umum.

Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cinta-kasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka, hak setiap individu hendaknya dihormati, pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental, dan spiritual, pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan, pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan, pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri, setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya.

Segala ajaran dan cita-cita hidup memerlukan pengertian, kesadaran, dan kesungguhan pelaksanaannya. Siapapun harus mengerti apa maksud dan mau kemana tujuan hidupnya. Ia harus merasa dan sadar akan arti cita-cita dan merasa pula apa perlunya bagi dirinya, dan bagi masyarakat dan yang penting mengamalkan perjuangan itu. Ibaratnya, ilmu tanpa amal seperti pohon yang tidak berbuah.