gigi oTGqcBJEqb tato tradisi-suku-mentawai

 

 

A. Perkembangan Sejarah

Bangsa Indonesia memang pantas dikenal sebagai Negara yang memiliki keanekaragaman suku dan budayanya yang terkenal hingga mendunia. Ditambah lagi dengan kearifan lokal masyarakatnya dan keramah tamahan yang dimiliki. Dengan keberagaman suku dan budayanya di Indonesia, tak salah jika banyak tercipta tradisi-tradisi unik yang tidak kita temukan dibelahan bumi manapun. Bahkan siapapun yang melihatnya akan dibuat kagum dan akan berkata Indonesia adalah negara yang kaya. banyak masyarakat kita yang masih melestarikan tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang dan mempertahankannya hingga sekarang. Bahkan beberapa ritual unik yang ada di negara kita ini menjadi salah satu warisan dunia yang diakui UNESCO. dari berbagai tradisi dan ritual-ritual unik masyarakat Indonesia, salah satunya adalah tradisi kerik gigi yang dimiliki Suku Mentawai di Sumatera Barat.
Menurut sejarah, Suku Mentawai ditemukan di tahun 1621 oleh warga Belanda yang datang ke Indonesia. Awalnya, masyarakat ini adalah penduduk Nias. Mereka bermigrasi menuju Pulau ini dan akhirnya tinggal disana. Dari waktu ke waktu, kehidupan mereka terisolasi dari peradaban luar hingga berabad-abad lamanya. Karena terisolasi dari peradaban, masyarakat ini masih menanamkan tradisi turun-temurun dari leluhur mereka. Dengan bahasa, budaya, dan adat istiadat tersendiri dan berpaham animisme. Pakaian mereka sendiri masih berbahan alami yakni dari kulit pohon sukun untuk laki-laki dan rok dari daun pisang untuk wanita. Ciri khas suku ini yakni dengan tato di sekujur tubuh serta kerik gigi untuk perempuan.
Orang Mentawai sudah menato badan sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera. Bangsa Proto Melayu ini datang dari daratan Asia (Indocina), pada Zaman Logam, 1500 SM-500 SM. Dalam catatan Ady Rosa, 48 tahun, dosen Seni Rupa, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, orang Mentawai sudah menato badan sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera. Bangsa Proto Melayu ini datang dari daratan Asia (Indocina), pada Zaman Logam, 1500 SM-500 SM. Menato tubuh ini digunakan oleh laki-laki sedangkan perempuan meruncingkan gigi. Kedua tradisi tersebut berjalan bersama karena kedua hal tersebut merupakan budaya sepaket.
Mendengar kata Kerik Gigi saja sudah membuat kita merinding mendengarnya, namun inilah yang dilakukan oleh wanita-wanita di Suku Mentawai. Mereka wajib melakukan tradisi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka sebagai simbol mencapai kedewasaan seorang wanita. Jika dilihat dari namanya sebenarnya tradisi ini hampir mirip dengan tradisi potong gigi yang dimilki masyarakat Bali. Namun terdapat perbedaan makna didalamnya, jika masyarakat bali melakukan ritual ini bertujuan untuk mengendalikan 6 sifat buruk yang ada didalam diri manusia yang dikenal juga dengan Sad Ripu, sedangkan Suku Mentawai melakukan ritual ini dengan tujuan agar terlihat cantik dan menarik bagi kaum pria disekitarnya. Karena menurut kepercayaan mereka bila wanita yang beranjak dewasa akan lebih terlihat cantik jika memilki bentuk gigi yang runcing. Selain bertujuan agar terlihat cantik tradisi ini juga bertujuan untuk memberi kedamaian jiwa si wanita. Masyarakat suku mentawai percaya jika mereka sudah melaksanakan ritual ini jiwa mereka akan dipenuhi kebahagiaan dan kedamaian jiwa. Masyarakat Mentawai percaya bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan keinginan jiwa harus sejalan dengan bentuk tubuh. Keyakinan ini diwujudkan laki-laki Suku Mentawai lewat tato tradisional, dan bagi wanitanya melalui tradisi kerik gigi.
Prosesi Kerik Gigi sendiri memang sangat menyakitkan, karena para ketua adat melakukannya tanpa melalui tahap pembiusan atau (anastesi) bahkan alat yang dipakai untuk ritual ini tanpa melalui proses sterlisasi. Biasanya kerik gigi dilakukan dengan menggunakan sebuah alat yang terbuat dari besi atau kayu yang sudah mereka asah hingga tajam. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk meruncingkan seluruh gigi mereka. Gigi mereka akan dibentuk meruncing tajam sehingga akan terlihat seperti gigi drakula, saat itulah mereka akan terlihat cantik dan menarik bagi para kaum pria suku Mentawai. Budaya meruncingkan gigi untuk masyarakat Mentawai saat ini sudah tidak menjadi keharusan semua wanitanya, namun kini budaya tersebut menjadi sebuah hal yang bisa dilakukan dan bisa tidak dilakukan pula. Budaya ini, kini hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, seperti istri cialis generique orang-orang yang dihormati dalam masyarakat tersebut.
B. KARAKTERISTIK PERILAKU ABNORMAL
Salah satu aspek perilaku abnormal adalah perilaku tersebut jarang ditemukan. Perkataan yang mengungkapkan bahwa seseorang dianggap normal adalah orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata-rata perilaku tertentu. Meskipun tidak semua perilaku yang jarang terjadi di masyarakat merupakan perilaku abnormal namun hal ini sering menjadi ukuran untuk memutuskan abnormalitas. Kebudayaan masyarakat Mentawai yang mengikir giginya agar menjadi runcing merupakan salah satu perilaku yang sangat jarang ditemui oleh masyarakat. Karakteristik lain dari perilaku abnormal adalah perilaku menciptakan tekanan dan siksaan besar pada orang yang mengalaminya atau dengan kata lain perilaku berbahaya. Baik membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Dalam kebudayaan mengikir gigi di Mentawai, orang yang dikerik giginya akan mengalami sakit yang luar biasa karena giginya harus dikikir dengan menggunakan sebuah alat yang terbuat dari besi atau kayu yang sudah mereka asah hingga tajam. Terlebih lagi karena para ketua adat melakukannya tanpa melalui tahap pembiusan atau (anastesi) bahkan alat yang dipakai untuk ritual ini tanpa melalui proses sterlisasi. Tidak cukup hanya sekali melakukan kerik gigi, wanita Mentawai harus melakukan berulang-ulang agar menghasilkan gigi yang runcing seperti taring. Kerik gigi ini sangatlah berbahaya untuk kesehatan gigi manusia. Dengan mengerik gigi, email gigi yang seharusnya dapat melindungi gigi akan hilang. Selain hilangnya email gigi, kerik gigi juga akan mengganggu berfungsinya masing-masing jenis gigi yang dimiliki manusia. Pada umumnya gigi tarik manusia hanya ada dua akan tetapi pada wanita masyarakat Mentawai, gigi mereka dirucingkan semua hingga menyerupai gigi taring.
C. GOLONGAN PERILAKU ABNORMAL
Menentukan gangguan kepribadian atau gangguan psikologis dalam sebuah kebudayaan bukanlah hal yang mudah. Peneliti perlu menyadari pengaruh faktor-faktor etnik dan sosiokultural ketika mengkaji ciri-ciri kepribadian atau gangguan psikologis. Kebudayaan wanita dalam masyarakat Mentawai meruncingkan gigi mereka dengan cara yang menyakitkan ini seperti self injury, yakni menyakiti diri sendiri karena merasa menyesal atau karena banyaknya tekanan dalam hidup. Meruncingkan gigi dalam kebudayaan Mentawai tidaklah digunakan untuk defense mecanism seperti yang dilakukan oleh self injury akan tetapi hal ini mengenai kepercayaan yang mereka anut sebagai warisan nenek moyang.
Penentuan perilaku abnormal dalam sebuah kebudayaan tidak dapat disamakan dengan kebudayaan lainnya. Sama halnya dengan kebudayaan meruncingkan gigi di Mentawai ini. Untuk masyarakat Mentawai, hal ini bukanlah menjadi masalah karena mereka melakukan berdasarkan kepercayaan yang telah lama mereka anut. Meski demikian, untuk masyarakat Indonesia pada umumnya, melukai diri sendiri dengan meruncingkan gigi akan nampak abnormal. Selain sakit yang harus ditahan untuk meruncingkannya, masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki gigi yang rata dan https://www.viagrasansordonnancefr.com rapi untuk memperindah penampilannya. Atas dasar pemikiran tersebut jika dibandingkan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya maka kebudayaan ini dapat disebut perilaku abnormal.

D. PANDANGAN PENULIS
Pandangan masyarakat tentang perilaku abnormal bervariasi antarbudaya, pola perilaku abnormal juga dapat memiliki bentuk berbeda pada budaya yang berbeda. Jika normalitas dan abnormalitas dikaitkan dengan pandangan budaya, maka akibatnya adalah adat kebiasaan dan norma-norma hidup yang dianggap normal oleh kelompok budaya tertentu bisa dianggap abnormal oleh kelompok budaya lain dan begitupun sebaliknya. Juga apa yang dianggap abnormal oleh satu generasi atau masyarakat beberapa ratus tahun yang lalu mungkin bisa diterima dan dianggap normal oleh masyarakat modern dewasa ini dan begitupun sebaliknya. Kebudayaan meruncingkan gigi yang berkembang di masyarakat Mentawai dianggap normal dikalangan masyarakatnya karena hal tersebut merupakan warisan nenek moyang yang tetap mereka lestarikan hingga kini, akan tetapi menurut masyarakat lainnya hal ini merupakan kebudayaan yang abnormal. Misalnya saja untuk masyarakat suku Jawa, meruncingkan gigi justru akan mendapat cemooh dari orang-orang karena dianggap aneh oleh masyarakatnya. Hal ini akan berlaku berbeda jika dilakukan di dalam kebudayaan masyarakat Mentawai, karena dengan meruncingkan gigi, mereka akan terlihat lebih cantik.