kesal

Perjuangan yang sesungguhnya adalah perjuangan melawan diri sendiri. Benar bukan acheter du cialis en ligne ?

Terkadang diri kita tidak menyadari bahwa ketakutan-ketakutan yang kita rasakan adalah hasil dari persepsi kita. Persepsi mengenai stimulus-stimulus yang diberikan oleh orang lain, termasuk stimulus dari dosen.

Sudah tidak perlu ditanyakan lagi banyak dari kita yang merasa cemas ketika harus menghadapi ujian terlebih jika diri kita belum siap. Berbagai alasan kita suguhkan untuk menghindari kenyataan tentang ketidaksiapan kita ini.

22 September 2015, hari dimana mahasiswa BK A 2014 harus menghadapi kenyataan bahwa kami harus ujian MID. Tidak seperti biasanya, para mahasiwa, termasuk saya, datang pagi-pagi buta. Para petugas kebersihan baru memulai menyapu daun-daun yang gugur, nampak tebal karena kemarin mereka libur bekerja. Bahkan pintu depan lobby pun juga belum dibuka, apalagi ruang kelas yang akan kami pakai jelas-jelas masih ditutup pintu teralis besi.

Pukul 07.00 WIB, saya rasa semua mahasiswa sudah berkumpul di SS lantai 2, dekat ruang kelas kami. Dan satu yang saya yakini bahwa kebanyakan dari kami tidak sempat makan sarapan pagi, terutama anak kos. Rahasia umum.

Seperti yang saya sampaikan tadi, hampir semua mahasiswa mengalami kecemasan akademik. Kecemasan ini semakin menjadi ketika dosen meminta kami mengerjakan soal dengan waktu singkat. Sudah tidak ada senyum di wajah kami, semua memasang tampang serius bahkan tidak ada seorangpun dari kami yang menjawab pertanyaan “siapa yang hari ini nggak masuk ?” tanya dosen kami, Bapak Agus Triyanto, M.Pd. Ruang kuliah benar-benar hening, tidak ada suara ocehan kami seperti biasanya. Hanya ada suara keyboard komputer yang ditekan dengan penuh tenaga terus-menerus dengan kecepatan super duper cepat. Bisa dibayangkan bukan, betapa mencekamnya suasana khas ujian, ujian mahasiswa yang tidak siap untuk ujian.

Tepat pukul 09.00 WIB, dosen memberikan instruksi untuk berhenti mengerjakan MID. Riuh sudah ruang kelas kami. Semua meneriakan protes karena merasa kurangnya waktu. Kelas kami, dari 37 mahasiswa, 32 diantaranya adalah wanita. Wanita yang memiliki 5 mulut per orangnya, termasuk saya. Ramai sudah ruang kelas. Untungnya tidak terjadi tawuran. Ah mungkin sedikit berlebihan. Tiba-tiba Pak Agus bilang “saya hanya ingin melihat wajah kalian yang serius hahaha”. Puas sekali nampaknya. Sejujurnya saya juga puas, lega, dan entahlah. Intinya, it’s new experience. Dosennya sih udah top banget lah yaaa 😀