mib_201405042108526967_sepucuk-surat

 

-surat ini dulu saya tulis sebagai lampiran pendaftaran ke salah satu pesantren di jogja, saya hanya ingin berbagi bahwa saya sedang berproses-

Assalamualaikum wr wb

Teruntuk Umi di Pesantren Mahasiswi Darush Shalihat

 

Umi, perkenankan saya terlebih dahulu untuk memperkenalkan diri saya. Nama saya Erliana Prastika atau bisa dipanggil Erli oleh teman-teman di kampus dan dipanggil Tika oleh keluarga saya. Saya lahir dan besar di Banyuwangi, Jawa Timur dan akhirnya memutuskan untuk merantau ke Jogja. Saya sangat bersyukur dapat tinggal di Jogja, karena di sinilah saya menemukan sebuah titik balik perubahan dalam diri saya. Sebuah perubahan yang tidak pernah saya sangka-sangka sebelumnya, karena perubahan saya saat ini benar-benar berbeda. Mengapa berbeda ? apa bedanya ?

Seperti yang sudah banyak orang tahu bahwa lingkungan akan membentuk kepribadian kita. Pun sama halnya dengan saya, dibentuk oleh lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan pertemanan serta lingkungan sekolah yang semuanya bernuansa “nasionalis”. Nasionalis dalam artian bahwa terdapat perbedaan yang sangat tipis antara melanggar peraturan agama dan kebiasaan. Seperti misalnya, memakai jilbab hanya saat di sekolah saja. Jilbab dalam lingkungan saya kurang dianggap sebagai kewajiban seorang muslimah akan tetapi lebih kepada formalitas saja.

Saya berhenti dari belajar mengaji saat kelas 5 SD dan semenjak itu saya mendapat ilmu-ilmu agama hanya saat kegiatan belajar mengajar di kelas saja. Sejak SD sampai SMA saya bersekolah di sekolah negeri, dimana pendidikan agama sangat sedikit yang diberikan. Dan akhirnya sekarang saya sangat miskin ilmu agama. Orang tua saya sudah membentuk saya dari kecil untuk pandai dalam hal akademik. Saat ini saya memiliki IPK 3,97 https://www.viagrapascherfr.com/viagra-femme-prix-gel/ namun IPK ini hanyalah sebuah hiasan karena ilmu agama saya yang sangat-sangat kurang. Sejak beberapa saat yang lalu sampai saat ini perasaan saya tidak karuan Umi, ada sebuah kegelisahan yang membayangi saya. Apa yang saya inginkan sudah terpenuhi dengan alhamdulillah mudah. Saat ini saya bisa berkuliah di universitas negeri tanpa tes, IPK bagus, organisasi juga berjalan lancar, dan kondisi keluarga juga tetap baik bahkan perekonomian keluarga meningkat. Akan tetapi semua itu bukan sebagai jaminan bahwa saya sudah bahagia,justru semakin membuat saya resah. Saya bingung dengan apa yang sedang saya rasakan. Beberapa hari saya fokus untuk memikirkan hal ini, dan saya mulai menemukan jawabannya. Yakni, karena kurangnya ilmu agama yang saya miliki. Apalah arti banyaknya ilmu akademik yang dimiliki jika ilmu agama 0 besar.

Pergaulan saya juga sangat berwarna, saya dan teman-teman saya dulu selalu mengatas namakan pertemanan sehingga sangat mudah untuk jalan-jalan bersama laki-laki maupun perempuan. Saya sangat menyesal Umi. Sungguh bodoh saya ini hingga bisa melakukan hal konyol tersebut.

Saat ini , teman-teman saya yang baru selalu menganggap bahwa saya adalah orang yang alim dan polos padahal nyatanya saya memiliki masa lalu yang sangat buruk. Setiap kali teman-teman mengatakan bahwa saya adalah orang yang alim rasanya saya ingin menangis Umi. Saya bukan orang yang alim seperti yang teman-teman bayangkan. Saya menyimpan sebuah masa lalu yang sungguh kelam. Kerap kali saya ingin melupakan semua yang sudah saya alami di masa lalu dan mulai dengan hidup baru di Jogja, namun semakin saya menekan ingatan itu maka semakin dalam pula ukiran ingatan itu. Saya hanya bisa menangis menyesali semua masa lalu itu Umi, entah saya ini hamba yang seperti apa. Saya hanya bisa menyesali semuanya.

Yang saya butuhkan saat ini adalah ilmu agama yang nantinya dapat mendekatkan diri pada Allah dan juga dapat mencegah saya dari perbuatan dosa yang sudah menggunung ini. Umi, saya tahu bahwa banyak peserta dauroh kemarin yang memiliki ilmu agama jauh di atas saya, saya sudah sadar diri. Saya sangat berterimakasih kepada Umi yang sudah memberikan ilmu-ilmunya kepada saya. Saya semakin sadar bahwa banyak hal yang tidak saya ketahui mengenai Islam. Saya ingin belajar lebih mendalam lagi mengenai Islam , mengenai Iman dan semua yang mendekatkan saya pada Allah. Jika memang nantinya takdir saya tidak di DS maka doakan saya agar saya tetap dapat beristiqomah dengan hijrah yang baru saya lakukan ini Umi. Doakan pula saya dapat menemukan tempat belajar agama yang memang terbaik untuk saya. Sekali lagi terimakasih Umi, semoga DS semakin berkembang menjadi pesantren mahasiswi yang baik dan dapat menyebarkan dakwahnya untuk semua umat.

 

Wassalamualaikum wr wb

Tertanda hamba Allah yang ingin mencari ilmu